Sejarah Tenualosa Macrura dan Tenualosa ilisha
Dipublikasikan pada: 09 December 2025
Ikan terubuk, terutama spesies Tenualosa macrura dan Tenualosa ilisha, dikenal secara historis karena telurnya yang sangat mahal dan dicari. Sejak abad ke-16, telur terubuk telah menjadi komoditas perdagangan penting yang berperan dalam perjalanan Kerajaan-Kerajaan Melayu besar seperti Malaka, Johor, dan Siak. Ikan dan telurnya dianggap sebagai simbol kebudayaan dan ekonomi maritim. Telur terubuk dijuluki sebagai "Kaviar-nya Timur" dan menjadi buruan bangsa Eropa. Berbagai catatan sejarah mengungkapkan bahwa perairan Bengkalis dan sekitarnya (Riau) adalah kawasan penghasil terubuk terbesar. Di era kolonial, telur terubuk menjadi salah satu menu mewah dalam rijsttafel (nasi beserta lauk-pauknya) Belanda, menandakan statusnya sebagai makanan kelas atas. Kabupaten Bengkalis dikenal dengan julukan "Kota Terubuk" karena ikan ini merupakan primadona dan kebanggaan masyarakat setempat, bahkan menjadi bagian dari akronim resmi daerah tersebut. Pada abad ke-19, ikan terubuk diabadikan dalam sebuah karya sastra Melayu klasik berjudul Syair Ikan Terubuk. Syair ini merupakan syair kiasan yang sarat akan nilai moral dan pendidikan karakter. Syair ini sering dikaitkan dengan legenda yang menceritakan cinta Ikan Terubuk (dari laut) kepada Tuan Putri Ikan Puyu-Puyu (dari air tawar). Kisah ini penuh dengan ajaran tentang kesombongan, tawadhu' (kerendahan hati), kesopanan, dan pengorbanan. Syair ini juga mencerminkan budaya suku Melayu di Bengkalis, termasuk unsur keagamaan (Islam) dan nilai-nilai seperti gotong royong dan kemandirian. Di Bengkalis, terdapat upacara adat yang disebut Semah Laut, yang dipandu oleh tetua adat (Bathin) untuk memanggil ikan terubuk, menunjukkan hubungan spiritual masyarakat dengan sumber daya alam ini. Meskipun memiliki nilai sejarah dan ekonomi yang tinggi, populasi ikan terubuk mengalami penurunan drastis. Gejala menurunnya populasi sudah dirasakan oleh nelayan sejak tahun 1970-an. Penangkapan yang berlebihan (terutama pada musim pemijahan) dan degradasi habitat estuari menyebabkan populasinya menurun tajam. Karena ancaman kepunahan, pemerintah Indonesia mengambil tindakan konservasi. Melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), ikan terubuk (Tenualosa macrura) ditetapkan sebagai spesies yang berada dalam Status Perlindungan Terbatas. Perlindungan ini mencakup larangan penangkapan pada musim dan lokasi pemijahan tertentu untuk memberi kesempatan pada ikan bereproduksi. Saat ini, upaya konservasi terubuk difokuskan di perairan estuarin sekitar Bengkalis (Riau) dan Labuhanbatu (Sumatera Utara), melalui program Pemulihan Habitat dan Penangkapan Ikan Terukur (PIT) yang baru diterapkan. Secara keseluruhan, ikan terubuk adalah saksi bisu dari kejayaan maritim Melayu yang kini berjuang melawan kepunahan, menjadikannya simbol penting yang menghubungkan masa lalu, ekonomi, budaya, dan tantangan konservasi masa kini.
← Kembali ke Beranda