Tradisi Semah Terubuk
Dipublikasikan pada: 28 December 2025
Sebagai sebuah tradisi yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat, Semah Terubuk mengandung berbagai nilai kearifan lokal yang penting. Kearifan lokal masyarakat (local wisdom) yang lahir di tengah kehidupan masyarakat berbudaya merupakan tindakan atau perilaku
positif yang memuat kebaikan-kebaikan. Biasanya diwariskan secara turun temurun dan berlaku secara universal dan parsial (Rasudin, 2022). Konsep ini dapat dilihat dalam praktik Semah Terubuk yang memiliki tujuan multidimensi.
Tujuan dari tradisi Semah Terubuk tidak semata-mata bersifat spiritual atau mistis, melainkan mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat. Secara ekologis, ritual ini mencerminkan pemahaman masyarakat tentang hubungan harmonis dengan alam. Dari segi
ekonomi, Semah dilakukan dengan harapan mendapatkan hasil laut yang berlimpah. Sementara dari aspek sosial-budaya, praktik ini berfungsi mempererat ikatan sosial dan mempertahankan warisan budaya nenek moyang. Prosesi ritual Semah Terubuk dilaksanakan secara kolosal dengan melibatkan berbagai tokoh adat dan elemen masyarakat pesisir. Struktur kepemimpinan upacara ini sangat hierarkis
dan terorganisir, dipimpin oleh empat tokoh adat bergelar "Batin" beserta istri-istri mereka, yaitu Batin Sungai Alam, Batin Sunggoro, Batin Bengkalis, dan Batin Penebal. Selain para Batin, upacara ini juga melibatkan figur-figur penting lainnya seperti Laksamana Raja di Laut, Sultan Siak, seorang Bidu yang berperan sebagai penerjemah, serta yang paling sentral adalah seorang Bomoh atau dukun perempuan. Tradisi ini juga melibatkan sosok Djindjang Radja sebagai "raja ikan" terubuk yang dipercaya hanya bisa dipanggil melalui ritual khusus.
Sosok ini akan masuk ke tubuh bomoh yang menjadi mediator turun-temurun dalam upacara semah. Puncak upacara ditandai dengan melempar makanan ke laut, yang dipercaya sebagai cara mengusir hantu laut jahat yang ikut hadir dalam semah. Dalam semah terubuk, makanan dibagikan dengan cara dilempar. Hal ini bertujuan untuk mengusir hantu jahat yang ikut dalam semah terubuk. Setelah semua kueh selesai dilempar, dan Embong Edah kembali normal, biasanya ikan-ikan terubuk akan datang kembali (Winata, 2016).
Sebagai penutup seluruh rangkaian ritual, dilakukan peletakan kepala kerbau di muara Sungai Bengkalis. Persembahan kepala kerbau ini merupakan bentuk persembahan terakhir dan terbesar, melambangkan keseriusan dan ketulusan masyarakat dalam memohon kepada
penguasa laut. Semah Terubuk. Namun, upaya pelestarian tradisi Semah Terubuk menghadapi berbagai tantangan yang cukup serius. Minimnya dokumentasi yang tersedia menjadi kendala utama dalam merekonstruksi tradisi ini secara utuh. Kurangnya kesadaran generasi muda terhadap nilai historis dan kultural tradisi ini juga menjadi hambatan dalam transmisi pengetahuan antar generasi. Selain itu, belum
adanya kebijakan spesifik dari pemerintah daerah yang mendukung pelestarian tradisi lokal membuat upaya pelestarian bergantung sepenuhnya pada inisiatif masyarakat dan individu tertentu. tradisi Semah Terubuk tidak hanya merupakan ritual spiritual, tetapi juga merepresentasikan sistem pengetahuan lokal yang kaya akan nilai ekologis, sosial, dan kultural. Kepunahannya menunjukkan tantangan dalam mempertahankan warisan budaya di tengah perubahan zaman, namun nilai-nilainya tetap dapat digali sebagai sumber inspirasi dalam membangun kesadaran budaya masa kini.
← Kembali ke Beranda
positif yang memuat kebaikan-kebaikan. Biasanya diwariskan secara turun temurun dan berlaku secara universal dan parsial (Rasudin, 2022). Konsep ini dapat dilihat dalam praktik Semah Terubuk yang memiliki tujuan multidimensi.
Tujuan dari tradisi Semah Terubuk tidak semata-mata bersifat spiritual atau mistis, melainkan mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat. Secara ekologis, ritual ini mencerminkan pemahaman masyarakat tentang hubungan harmonis dengan alam. Dari segi
ekonomi, Semah dilakukan dengan harapan mendapatkan hasil laut yang berlimpah. Sementara dari aspek sosial-budaya, praktik ini berfungsi mempererat ikatan sosial dan mempertahankan warisan budaya nenek moyang. Prosesi ritual Semah Terubuk dilaksanakan secara kolosal dengan melibatkan berbagai tokoh adat dan elemen masyarakat pesisir. Struktur kepemimpinan upacara ini sangat hierarkis
dan terorganisir, dipimpin oleh empat tokoh adat bergelar "Batin" beserta istri-istri mereka, yaitu Batin Sungai Alam, Batin Sunggoro, Batin Bengkalis, dan Batin Penebal. Selain para Batin, upacara ini juga melibatkan figur-figur penting lainnya seperti Laksamana Raja di Laut, Sultan Siak, seorang Bidu yang berperan sebagai penerjemah, serta yang paling sentral adalah seorang Bomoh atau dukun perempuan. Tradisi ini juga melibatkan sosok Djindjang Radja sebagai "raja ikan" terubuk yang dipercaya hanya bisa dipanggil melalui ritual khusus.
Sosok ini akan masuk ke tubuh bomoh yang menjadi mediator turun-temurun dalam upacara semah. Puncak upacara ditandai dengan melempar makanan ke laut, yang dipercaya sebagai cara mengusir hantu laut jahat yang ikut hadir dalam semah. Dalam semah terubuk, makanan dibagikan dengan cara dilempar. Hal ini bertujuan untuk mengusir hantu jahat yang ikut dalam semah terubuk. Setelah semua kueh selesai dilempar, dan Embong Edah kembali normal, biasanya ikan-ikan terubuk akan datang kembali (Winata, 2016).
Sebagai penutup seluruh rangkaian ritual, dilakukan peletakan kepala kerbau di muara Sungai Bengkalis. Persembahan kepala kerbau ini merupakan bentuk persembahan terakhir dan terbesar, melambangkan keseriusan dan ketulusan masyarakat dalam memohon kepada
penguasa laut. Semah Terubuk. Namun, upaya pelestarian tradisi Semah Terubuk menghadapi berbagai tantangan yang cukup serius. Minimnya dokumentasi yang tersedia menjadi kendala utama dalam merekonstruksi tradisi ini secara utuh. Kurangnya kesadaran generasi muda terhadap nilai historis dan kultural tradisi ini juga menjadi hambatan dalam transmisi pengetahuan antar generasi. Selain itu, belum
adanya kebijakan spesifik dari pemerintah daerah yang mendukung pelestarian tradisi lokal membuat upaya pelestarian bergantung sepenuhnya pada inisiatif masyarakat dan individu tertentu. tradisi Semah Terubuk tidak hanya merupakan ritual spiritual, tetapi juga merepresentasikan sistem pengetahuan lokal yang kaya akan nilai ekologis, sosial, dan kultural. Kepunahannya menunjukkan tantangan dalam mempertahankan warisan budaya di tengah perubahan zaman, namun nilai-nilainya tetap dapat digali sebagai sumber inspirasi dalam membangun kesadaran budaya masa kini.